Valuasi Hutan untuk Pelestarian

5

Seorang profesor di fakultas pernah bercerita mengenai dosen pembimbingnya (dosbing) saat beliau masih menjadi mahasiswa. Kala itu, tahun 70-an, sang profesor diajak oleh dosbingnya untuk pergi ke Jakarta. Dosbingnya diminta untuk ikut dalam rapat penentuan kebijakan berkenaan dengan suatu wilayah hutan yang – rencananya – akan dibuka untuk menjadi pertambangan oleh sebuah perusahaan tambang besar.

Di Jakarta, orang-orang dari perusahaan tersebut sudah siap. Jumlah mereka banyak, mereka memborong para ahli di bidang pertambangan, dan mereka tampak bertekad ingin memenangkan usulan kebijakan yang mereka ajukan. Namun, di sisi lain para pemangku kepentingan dari kehutanan juga datang, termasuk sang dosbing, yang saat itu pun telah dikenal sebagai salah satu orang yang berpengaruh. Debat panas dan jotos-jotosan Diskusi pun dimulai.

Dari pihak pertambangan menguraikan rencana penambangan mineral yang akan mereka lakukan. Mereka menjelaskan berapa banyak areal hutan yang akan mereka buka. Kemudian, dari pihak kehutanan menimpali dengan tidak menerima ajuan tersebut. Pembukaan hutan, menurut mereka, dapat mengakibatkan kerusakan alam, ketandusan lahan, permasalahan lingkungan, dan lain-lain.

Kemudian, menanggapi timpalan panas tersebut, pihak pertambangan tak mau kalah. Mereka membawa ahli-ahli ekonomi yang dengan gamblang menjelaskan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari aktivitas pertambangan tersebut. Berapa pemasukan yang akan diperoleh perusahaan, berapa yang akan diberikan kepada daerah, pusat, bahkan warga di sekitar pertambangan.

Lapangan pekerjaan akan dibuka, sekolah-sekolah akan didirikan, modal akan ditanamkan. Daerah tersebut akan dimajukan, dan negara sebagai entitas pemerintahan tertinggi akan untung besar.

Lalu, bagaimana dengan balasan dari pihak kehutanan? Berapa besar keuntungan yang akan didapatkan oleh negara, daerah, masyarakat setempat, dan lain-lain dengan tetap adanya hutan tersebut?

Jawabannya, sayang sekali, tidak dapat diberikan oleh pihak pro-hutan. Mati kutu, tak ada data, tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Yang bisa diberikan hanyalah kisah-kisah, dongeng-dongeng hutan yang hijau, masyarakat hidup berdampingan dengan alam, dan sebagainya.

Bandingkan dengan pertambangan yang akan membawakan kemajuan secara berkuantitas, dapat dihitung, dan dapat dilihat secara nyata. Mana yang kira-kira dipilih oleh pemerintah pusat saat itu?

-a-

1

Berapa besar keuntungan yang akan didapatkan oleh negara, daerah, masyarakat setempat, dan lain-lain dengan tetap adanya hutan tersebut?

Belajar dari pengalaman seperti itu, dan pengalaman-pengalaman lainnya yang mungkin pernah terjadi, para rimbawan menyadari bahwa pengambilan kebijakan bukanlah sesuatu yang bisa diambil hanya berdasar perasaan. Butuh sesuatu yang kongkrit, riil, dan dapat dilihat jika seseorang ingin mengambil suatu keputusan yang dapat mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Apalagi di era keterbukaan dan negara demokrasi yang menuntut pemerintah dapat mempertanggungjawabkan setiap tindakannya kepada masyarakat.

Untuk memenuhi kebutuhan akan variabel yang kongkrit tersebut, pihak kehutanan berusaha sekuat tenaga untuk mengisi kekosongan-kekosongan data hutan kita.

Di tahun pertama kuliah di Fakultas Kehutanan, para mahasiswa sangat sering turun ke lapang, tak peduli dari departemen apa kami atau program studi apa yang kami ambil. Kegiatan kami di lapang, di awal-awal, kurang lebih sama hingga hampir terasa monoton: inventarisasi hutan.

Kami berangkat pagi, mengambil sepetak areal, kemudian mulai bekerja untuk menginventarisasi vegetasi atau pohon di dalamnya. Menghitung jumlah pohon dan mengkategorikannya dalam kategori semaian, pancang, tiang, dan pohon (kecil, muda, remaja, dewasa/siap panen), mengidentifikasi pohon apa saja yang ada di areal lahan tersebut, menandai pohon-pohonnya sehingga pohon dari spesies langka takkan dipanen, dan memetakan pohon-pohon tersebut ke dalam sebuah peta.

Di semester-semester selanjutnya, kami mengembangkan inventarisasi kami. Tak hanya pohon, tumbuhan-tumbuhan pun kami catat. Kemudian satwa, flora, fauna, seluruhnya. Lebih jauh lagi, kami mendata kondisi tanah, kondisi udara, atmosfir, iklim, hingga sosial-masyarakat di sekitar maupun di dalam hutan.

Singkat kata, nyaris seluruh masa kuliah kami di program sarjana Kehutanan dipenuhi dengan mempelajari cara-cara mendata hutan. Cita-cita tercapainya data hutan yang tercakup dan menyeluruh pun terasa semakin dekat, bukan?

-a-

Sumber: Global Forest Change by University of Maryland

Sumber: Global Forest Change by University of Maryland

Kenyataannya adalah, meski hutan sudah begitu banyak terdata, bahkan telah terpetakan seluruhnya dengan satelit (Google sudah memiliki seluruh data deforestasi dunia, bisa dilihat di sini), masih banyak masalah kehutanan yang terjadi.

Salah satunya, yang akhir-akhir ini tengah menjadi polemik, adalah perluasan lahan kelapa sawit.

Pada tahun 2009, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 7,5 juta hektar. Produksinya mencapai 21,5 juta ton per tahun. Indonesia menjadi produsen kelapa sawit kedua terbesar di dunia (setelah Malaysia, itu pun banyak dari perusahaan kelapa sawit Malaysia memiliki perkebunannya di Indonesia), dan kelapa sawit menjadi penyumbang devisa negara yang sangat besar.

Dengan potensi sebesar itu, wajar kalau perluasan wilayah perkebunan kelapa sawit masih terus dilakukan. Prinsip supply dan demand – dengan permintaan kelapa sawit yang masih tinggi dan tingginya harga yang bersedia dibayar oleh pasar, tentunya suplai pun dituntut untuk ditambah.

Perluasan tersebut masih berlangsung hingga saat ini, dengan pertanyaan utama: apakah sebaiknya dibatasi atau tidak?

Menurut pihak-pihak yang membatasi perluasan, perkebunan kelapa sawit dapat merusak lingkungan karena dalam prosesnya perluasannya, mereka juga menebang hutan terus-menerus. Merambah habitat satwa liar, membunuhinya, menganggap fauna sebagai hama, dan banyak lagi. Di sisi lain, pihak-pihak yang pro-perluasan berkata bahwa kelapa sawit dapat memberikan keuntungan riil, keuntungan kongkrit, nyata, bagi daerah maupun pemerintah. Menurut mereka, mempertahankan hutan tidak memberikan keuntungan sebesar kelapa sawit.

3

Kelapa sawit

-a-

Menurut mereka, mempertahankan hutan tidak memberikan keuntungan sebesar kelapa sawit.

Salah satu kelemahan besar yang menurut saya terjadi dalam proses pendidikan di Fakultas Kehutanan adalah betapa tidak siapnya kami untuk melakukan penelitian riil, kontribusi riil, untuk membela kehutanan dari bidang ekonomi.

Sebagai contoh, di departemen saya, pelajaran mengenai valuasi hasil hutan baru dipelajari dalam satu mata kuliah (Ekonomi Kehutanan, semester 4). Hanya satu semester, setelah itu tidak didalami lebih jauh lagi. Kami mengerti cara mengerjakan soal-soal di buku teks, tapi mengenai penilaian langsung di lapang, sayangnya, jarang sekali kami lakukan.

Hal ini terlihat jelas dari seian banyak praktek-praktek yang telah kami lakukan. Jika dilihat, hasil dari praktek-praktek lapang kami – sebagian besar – adalah data. Sangat jarang kami turun dari suatu gunung/hutan/wilayah, kemudian mempresentasikan hasil praktek kami yang bunyinya, “Kami baru saja dari Gunung X, kami mengetahui hasil hutan yang ada di sana adalah ini, dan nilainya secara keseluruhan adalah segini. Oleh karena itu, dengan potensi ekonomi sebesar ini, kami berpendapat hutan ini harus dilestarikan.

Alih-alih seperti itu, kami membawa informasi berapa jumlah pohon yang ada di suatu gunung, spesies flora-fauna apa saja yang ada di sana, spesies baru apa saja yang berhasil kami temukan, dan foto-foto di sana (yang bagus-bagus, dan kadang setara atau melampaui kualitas fotografer dari NatGeo sekalipun).

Apakah itu yang akan kami bawa ke para pembuat kebijakan?

Bukankah kita sudah tahu bahwa ternyata untuk membela kehutanan kita memerlukan sesuatu yang lebih dari sekedar data? Sesuatu yang dapat menggambarkan dengan kongkrit mengenai nilai suatu hutan, bagaimana kita bisa menghitungnya, dan bagaimana kita bisa menjabarkannya?

Sehingga, menurut saya, pelajaran-pelajaran seperti Ekonomi Kehutanan, Manajemen Hutan, dan berbagai mata kuliah lainnya yang memungkinkan kita, para rimbawan, untuk menilai suatu hutan adalah sesuatu yang penting dan wajib kita dalami selama perkuliahan. Mengutip kata-kata dari seorang dosen, “Menginventarisir hutan adalah sesuatu yang sederhana. Nggak perlu gelar sarjana untuk melakukannya. Bagaimana memberi nilai terhadap hutan, itulah yang seharusnya mampu dilakukan oleh seorang sarjana kehutanan.”

Saya optimis, di masa depan, pelajaran-pelajaran seperti itu akan diterapkan di kampus saya ini, dan juga diberikan kepada semua rimbawan di Indonesia. Bagaimana pun, kita para rimbawan adalah orang-orang yang terus belajar. Atau, mengutip kata-katanya Slank, “Kita orang-orang yang survive.”

Kita sadar mengenai pentingnya data, dan kita telah menerapkannya dalam perkuliahan. Sekarang, tinggal bagaimana caranya kita bisa mengubah data tersebut menjadi suatu nilai dari hutan dan mempersembahkannya ke para petinggi kita.

Bayangkan, suatu hari, kita bisa maju ke hadapan presiden dan berkata, “Nih, pak. Kalau hutannya dipertahankan, ini lho keuntungannya, menurut hitung-hitungan dari kami: a) untuk menyerap karbon dari atmosfir (dengan pasar karbon sekarang, bisa dapat untung besar), b) hasil hutan kayu yang bisa dikelola (harga kayu makin mahal lho), c) hasil hutan non kayu yang bisa dipanen dan dikelola juga (harga rotan, bambu, dll-nya juga makin keren lho sekarang ini), d) untuk mencegah banjir (nggak perlu mengeluarkan biaya penanggulangan bencana, penghematan dana negara milyaran rupiah!) dan masih banyak lagi.”

Dan di akhir, kita bisa berkata dengan sangat jelas dan lantang, “Jadi, lestarikan hutannya!”

4

Maka, yuk kita sama-sama mempelajari valuasi hutan di negara kita ini!

Catatan Penelitian

Sampul_Paper

Pasca-ujian akhir semester, saya akan berangkat ke Cilacap untuk menjalankan sebuah penelitian. Berkaitan erat dengan bidang studi saya di kampus, yaitu kehutanan dan ekonomi industri, penelitian ini akan mengangkat topik mengenai analisis nilai tambah usaha kecil menengah di Kabupaten Cilacap.

Proposal baru saja ditandatangani oleh dosen pembimbing pada hari Jumat kemarin, dan surat izin untuk melaksanakan penelitian juga sudah saya ambil. Yang kurang, mungkin, tinggal membeli tiket untuk ke Cilacap dan menghubungi kembali kontak saya di sana. Sudah beberapa hari ini saya mencoba menghubungi seorang pengrajin di Cilacap, namun tidak diangkat dan dibalas. Kemungkinan besar karena hari libur dan masih awal tahun.

Harapan saya sederhana: penelitian ini dapat berjalan lancar dan bermanfaat.

Bismillah.

AET Lagi: Kunjungan Dari SD YPIDH

Sebenarnya, kunjungan ini sudah kurang lebih sebulan yang lalu. Pertengahan November, tepatnya tanggal berapa agak lupa 😛 Tapi, baru sempat upload foto-fotonya sekarang.

Pada baru datang nih! (Saya yang mimpin memandu!)

Pada baru datang nih! (Saya yang mimpin memandu!)

Ini anak-anaknya! Pada bete, soalnya di jalan katanya macet :P

Ini anak-anaknya! Pada bete, soalnya di jalan katanya macet!

Jadi, ceritanya teman-teman cilik kita dari SD YPIDH ini datang ke IPB buat jalan-jalan dan diajari caranya membuat boneka Horta. Setelah keliling kampus, kita kumpul bareng di aula Al-Hurriyah, terus ada trainer yang ngajarin bikin bonekanya, langsung dari Perusahaan Horta. Semuanya pada duduk, ramai, terus bikin deh.

Continue reading

Keluarga Baru dan Agroedutourism IPB

Niatan pertama gabung dengan AET IPB, sejujurnya, tak lebih tak kurang adalah karena iseng-iseng. Coba-coba. Bahkan, lebih jujur lagi, aku mendaftar karena diajak oleh temanku, yang konon juga diajak oleh temannya, dan seterusnya 😛 Melewati tahapan seleksi administrasi (pendaftarnya banyak lho, ternyata), lalu diteruskan tahapan wawancara (aduh peserta yang lain kayanya pas diwawancara berwawasan banget, keren lah). Setelah itu, saya tidak terlalu memikirkan hasilnya, saya pikir kecil kemungkinan saya bisa lolos.

Tapi, ternyata oh ternyata, di suatu sore hari yang biasa, mendadak ponsel saya berdering. Sebuah SMS masuk dari panitia, memberitahukan saya bahwa saya diterima menjadi anggota AET.

Menjadi pemandu wisata!

Menjadi pemandu wisata!

Mengikuti pelatihan selama dua hari penuh, saya menerima job pertama sebagai pemandu wisata hanya seminggu setelahnya. Himakova IPB sedang mengadakan acara Hari Biodiversitas, dan bekerjasama dengan AET IPB, kami bertugas memandu anak-anak SD dari kota Bogor yang berkunjung ke IPB untuk ikut serta dalam event tersebut. Anak-anak SD-nya sebagian besar adalah anak-anak kelas 5, sehingga Alhamdulillah sudah lebih bisa untuk diarahkan. Namun, boy, saya baru menyadari satu hal dari job tersebut: menjadi pemandu wisata itu susah.

Tapi… menjadi pemandu untuk anak-anak juga menyenangkan. Menemani mereka menanam pohon, menggali biopori, dan jalan-jalan keliling kampus. Dan masih banyak lagi. Plus, saya bisa sekalian mempromosikan IPB kepada mereka. Di tengah-tengah acara, saat ditanya “Siapa yang mau kuliah di sini nantinya?” nyaris semua dari mereka angkat tangan.

Yay! :mrgreen:

Last 12 Months - 3701 Last 12 Months - 3703

Di akhir hari, saya mendapatkan pelajaran baru, pengalaman baru, dalam jumlah yang sangat tak terhingga. Ini adalah pekerjaan pertama saya yang secara langsung berhubungan dengan dunia kehutanan – atau minimal, dunia pertanian – yaitu menjadi pemandu wisata biodiversitas. Masih banyak yang harus saya pelajari agar bisa menjadi pemandu yang lebih baik, tapi saya merasa saya bisa melakukannya. 😀

Terakhir, saya juga merasa mendapatkan keluarga baru dari AET IPB ini. Para pemandu angkatan saya semuanya orangnya baek-baek dan ramah-ramah, rajin menabung pula. Semoga kami bisa menjadi lebih erat, dan dapat bekerja dengan lebih baik lagi nantinya.

AET IPB angkatan 2013

AET IPB angkatan 2013

Off: Tentang Hubungan dan Komunikasi di Jaman Teknologi

IMG_3338

Cerita ini dimulai ketika aku masih remaja, dan berakhir di masa kini, di suatu jaman yang disebut sebagai jaman teknologi. Aku memiliki seorang sahabat di masa remajaku, sahabat yang berhubungan denganku cukup lama, melalui waktu, jarak serta rasa. Di akhir, kami berpisah, namun tidak dengan sia-sia. Segudang pengalaman dan pelajaran kupetik darinya, dari kami berdua. Di antaranya adalah salah satu unsur penting dalam komunikasi. Hingga detik ini, pelajaran darinya tersebut masih kupegang, terutama di jaman teknologi ini.

Continue reading

Menggenggam Dunia Di Waktu Yang Tepat

IMG_2802

Korea Utara mengancam akan menyerang Amerika Serikat dengan rudal nuklir, aktivis Pro-Senjata di AS menentang adanya undang-undang senjata berat, Iran berhasil meluncurkan monyet ke luar angkasa. Berbagai hal luar biasa tersebut terjadi di belahan dunia lain, ratusan – bahkan ribuan – kilometer dari tempat kita berada sekarang.

Sepuluh tahun lalu, bahkan dengan sudah adanya internet, sangat sulit membayangkan bahwa suatu hari kita akan bisa mengetahui berbagai hal luar biasa yang terjadi ribuan kilometer dari kita dalam sekejap. Sulit untuk membayangkan di mana jarak tidak lagi menjadi hambatan untuk memperoleh informasi. Tapi, sekarang ini, seluruh berita di dunia dapat kita baca di genggaman tangan kita.

Teknologi, dengan berbagai macam gadgetnya, telah terjangkau oleh berbagai lapisan kalangan masyarakat. Smartphone, laptop, bahkan tablet bukan lagi menjadi monopoli kaum berduit karena harganya semakin murah. Komputer tidak lagi menjadi monopoli kaum akademis karena UI-nya semakin sederhana dan mudah digunakan oleh siapa pun.

Continue reading