Makan dan Jalan-Jalan Bareng BIP :9

Gallery

This gallery contains 32 photos.

Sudah beberapa bulan saya terdaftar dalam keanggotaan BIP (Bara Improvement Project), namun baru kali kemarin, Sabtu 14 April 2012, saya benar-benar ikut kumpulnya. Alasannya banyak, tentu saja, kalau mau dihitung, tapi sesungguhnya satu yang utama: saya ndak dapat jarkom Yah, … Continue reading

Ujian Tengah Semester Ganjil 2012: Selesai!!

Hari Jumat kemarin, bersamaan dengan terselesaikannya soal nomor terakhir ujian mata kuliah Analisis Meteorologi, maka berakhir pulalah Ujian Tengah Semester genap tahun ini bagi saya. Banyak cerita dari UTS kali ini. Dari yang suka hingga duka, namun kalau boleh dikatakan sejujur-jujurnya, maka saya akan mengatakan.. bahwa jauh lebih banyak suka-nya daripada duka.

Apa saja sih suka-nya? Yah… diantaranya: saya belajar nggak sendirian, selalu ada yang nemenin – biarpun cuma satu orang (hahem.. :P ); kemudian saya sudah belajar dari jauh-jauh hari, sehingga pas H-1 saya tinggal review ulang, baca-baca kembali materi; saya sudah menghadap beberapa kakak kelas, meminta materi-materi slide dan contoh-contoh soal tahun lalu (yang mana ada di antaranya ternyata sama persis dengan soal-soal UTS tahun ini. Seriusan!); dan masih banyak lagi kesenangan yang terjadi.

Efeknya? Well, tentu saja sebagai yang utama adalah saya tidak garah-gusuh pas sudah H minus 1. Saya tinggal duduk santai, baca review dengan ditemani kopi sampai malam, saya mengulas dengan tenang (meskipun ada juga yang enggak sih, huhu :( ), dan lain-lain. Dan mengenai belajar bareng – wah, tentu saja ini sangat menyenangkan ya. Bagaimana mungkin tidak? Duduk bareng temen-temen, membahas soal bareng-bareng, kemudian kalau sudah agak jenuh tinggal makan cemilan ramai-ramai dan ngeceng-cengin satu sama lain.

Sempat ada satu hari saya lagi males, saya lagi pengen belajar sendirian aja (namanya juga ABG, masih galau-galuan :D ), tapi kemudian teman dekat saya menghubungi, sebut saja namanya Alwi. Dia meminta saya nemenin belajar bareng. Wah, tentu saja saya awalnya males, mana lagi galau, lagi sakit kepala juga… tapi saya pun akhirnya datang. Dan tidak disangka-sangka, si Alwi ternyata mengundang banyak sekali anak-anak kelas juga. Hadeuh… semuanya jadi berisik dong…

Tapi ternyata – ternyata, saya malah mendapati sakit kepala saya sedikit demi sedikit menghilang bersama kegalauan saya. Berkeliling menghampiri teman-teman saya satu demi satu, membantu mengerjakan soal-soal yang ada di lembar UTS tahun-tahun lalu, dan lain-lainnya… semuanya terasa sangat menyenangkan. Saya senang mengajarin teman-teman saya, apalagi ada si ehem di sana… xixixi.

Anyway. Intinya UTS kali ini sangat lancar dan menyenangkan, jauh berbeda dibandingkan dengan UTS” sebelumnya. Masalah nilai mah masalah kesekian… kurang begitu penting. Yang jelas, sekarang semuanya terasa sangat puas!

Harapan saya sederhana: semoga kedepannya bisa terus seperti ini… dan semoga bisa lebih dekat lagi dengan si ehem huehuehuekkeke :mrgreen:

Berjalannya UTS: Sudah Dua Hari Lho :)

Sudah dua hari saya menjalani UTS: Selasa dan Rabu, dengan masing-masing untuk mata kuliah Anatomi dan Kimia Kayu. Soal-soal sudah saya kerjakan, saya keluar ruangan dengan cukup lega, pokoknya overall ndak parah-parah amat. Namun terlepas dari sudah terlaksananya dua hari berturut-turut UTS Semester Genap saya di tingkat II ini, tetap saja ada perasaan aneh dari dalam diri saya terhadap UTS ini, sesuatu yang saya tadinya mengira akan hilang seiring berjalannya waktu.

Apakah itu? Ya, perasaan itu adalah perasaan tenang.

Saya adalah orang yang cukup rempong. Sering tampak ndak nyantai banget kalau mau ujian. Dan jangankan ujian, latihan soal atau kuis sehari-hari saja saya sering panik sampai-sampai lupa semua materi yang penting-penting, yang vital-vital. Namun sangat berbeda halnya dengan UTS kali ini. Saya merasa sangat santai, relaxed, nyaman, dan tenang. Sembari belajar saya masih menyempatkan diri membuka laptop, browsing internet, membaca-baca blog teman-teman, dan lain sebagainya. Pokoknya benar-benar “Bukan gue banget” dah!

Entah apa yang menyebabkan saya seperti ini. Di satu sisi, saya sempat khawatir ini adalah pertanda saya menjadi malas dan bahwa saya akan mendapatkan nilai jelek kalau saya masih merasa seperti ini. Namun di sisi lain, sebagaimana saya katakan di atas, sudah dua hari UTS terlewati dan sejauh ini saya masih merasa lancar-lancar saja – terlalu lancar malah, terutama untuk mata kuliah kemarin, Kimia Kayu. Memang jelas, saya ndak mungkin benar-benar menjawab semuanya dengan benar dan mendapat nilai 100, namun tiap kali saya keluar ruangan dan membaca-baca slide mata kuliah yang baru diujikan dalam rangka mencocokkan jawaban saya, saya selalu mendapati sebagian besar benar dan saya pun akan berpikir, “Alhamdulillah, dapat lah nilai B :)

Memang ini bukan hal yang baru. Saya mengalami ini menjelang akhir UAS semester ganjil kemarin, dan Alhamdulillah nilai-nilai saya sangat memuaskan seluruhnya, menutup nilai UTS Semester ganjil saya yang hancur berantakan. Mungkin saya bisa merasa seperti ini karena saya sudah mendapatkan irama belajar yang tepat, atau mungkin karena saya jadi malas, kurang ambisi, atau mungkin… dan ini yang paling saya harapkan, sebenarnya: Karena saya sudah bisa lebih banyak bersyukur, menikmati segalanya yang ada sebaik-baiknya. Belajar tetap jalan, main tetap jalan, temenan tetap jalan, Insya Allah hasil terbaik, ‘kan? :D

Tentu saja UTS masih panjang, masih ada seminggu lagi dan enam mata kuliah yang harus dikerjakan. Harapannya saya bisa menjaga perasaan tenang dan nyaman saya ini, sehingga belajar pun bisa tetap terasa menyenangkan. Sekali lagi, mohon doanya ya teman-teman!! :mrgreen: Terima kasih!

Hugo, Film Keluarga, dan Visual dalam Sinema

Setelah beberapa minggu tidak sempat sama sekali untuk refreshing, beberapa hari yang lalu dengan sengaja saya mengambil waktu refreshing besar-besaran dengan pergi ke kota, jalan-jalan, dan membujang. Lihat sana-sini, masuk ke mall, mengamati kawula muda sedang bercengkerama di tengah sosialita masyarakat Indonesia… Dan banyak lainnya.

Niat awalnya sebenarnya hanya ingin jalan-jalan, namun kemudian, saat saya sedang berada di dalam Botany Square, saya melihat poster film Hugo sedang dipajang di depan bioskop XXI. Dengan bangganya poster tersebut mencantumkan: 11 Academy Award Nominations – alias sebelas nominasi Oscar. Saya pun teringat bahwa film tersebut memang merupakan salah satu film yang dulu pernah saya sangat nanti-nantikan, dan saya juga teringat bahwa film Hugo berhasil menyabet lima (atau enam? Saya lupa :P ) piala Oscar pada tahun ini. Rasa penasaran kian bertambah, saya akhirnya masuk ke dalam bioskop, membeli karcis masuk, popcorn, dan duduk manis di dalam ruangan, untuk menonton film Hugo ini.

Secara garis besar, film Hugo adalah sebuah kisah yang sederhana. Seorang anak laki-laki yang hidup di sebuah stasiun kereta, bekerja mengatur dan menjaga agar setiap jam yang berada di stasiun tersebut tetap berdetik tiap harinya. Kemudian dia bertemu dengan seseorang pria dewasa misterius, lalu bertemu dengan seorang perempuan sebayanya, dan misteri berlanjut, dan dengan latar belakang masa lalunya yang cukup kelam, si anak berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan dan menyelesaikan misteri yang ada.

Simpel, sederhana. Namun Hugo, selayaknya sebuah film yang memborong Oscar beruntun, bukanlah film yang sesederhana itu.

Continue reading

Tentang Cinta, dan Kenapa Kita Seringkali Salah

Ini adalah sebuah cerita lama, yang baru-baru ini saya dengar lagi dalam sebuah show-nya Mario Teguh, sang motivator kondang itu, di televisi. Dalam show tersebut, Mario Teguh mengangkat sebuah topik yang cukup unik: topik mengenai cinta.

Saya, sebagai anak muda yang sedang mencari cinta (#halah) tentu saja langsung mengurangi kecepatan makan malam saya dan mendongak untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan Mario Teguh. Semua yang beliau sampaikan bagus, dan sangat inspiratif, namun secara umum tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Nyaris semua bahasan di dalamnya sudah biasa saya dengar dan baca dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saya terapkan di dalamnya.

Ya, hingga akhirnya beliau sampai pada satu topik pertanyaan ini, yang disampaikan oleh salah seorang penonton:

“Jika kita sudah berkeluarga nanti, bagaimana kita mengatur cinta kita? Ada banyak hal yang harus dan selayaknya kita cintai: istri/suami kita, anak kita, ipar kita, mertua kita, orangtua kita sendiri, dan bahkan agama kita. Bagaimana kita bisa membagi hati kita?”

Beliau tertawa kecil, dan menjawab dengan lancar, “Tentu saja jawabannya adalah: Anda harus mencintai agama Anda 100%, sepenuh-penuhnya hati.”

Saya mengangguk. Hal yang biasa saya dengar juga, teman-teman saya juga dari dulu sering berkata begitu -

“Kemudian, Anda mencintai istri/suami Anda 100%. Juga sepenuh hati.”

Saya mendongak. Apa maksudnya?

“Ipar Anda 100%, anak Anda 100%, mertua Anda 100%, dan orangtua Anda 100%. Semuanya 100%, sepenuh-penuhnya hati kita memberikan.”

Saya mengerjap beberapa kali. Lho, kok bisa begitu? Mana bisa kaya’ begitu, khan? Masa hati kita mau dijumlah berapa ratus persen-

“Disitulah sebagian besar dari kita salah. Kita menganggap kita tidak bisa mencintai semuanya 100% sama. Padahal bisa. Berikan 100% pada semua yang memang kita sayangi. Mungkin kata Anda, ‘Lha, jumlah semuanya khan bakal lebih dari 600%, 10000%, dan semacamnya itu pak?’

“Itulah poinnya. Kita bisa melakukannya karena Cinta itu tidak ada logika. Cinta itu tidak bisa dihitung dengan matematika. Kalau berusaha mengharafiahkan cinta dengan logika, itu berarti membelenggu cinta hanya dalam batas daya pikir otak manusia. Padahal kenyataannya tidak! Cinta adalah sesuatu yang sangat haqiqi, sesuatu yang sangat tinggi melampaui segala logika dan daya pikir manusia!”

Continue reading