(Tentang) Bertanya dan Budaya Kita

Ask

Beberapa hari lalu aku mengikuti sebuah kuliah. Kuliah tersebut dilangsungkan di sebuah ruangan full-AC, pada pukul 8 pagi. Bisa ditebak, sebagian besar mahasiswa yang ada di kelas masih ngantuk-ngantukan dan belum bisa fokus penuh pada kuliah yang diberikan.

Kuliah berlangsung selama 100 menit, dan sepanjang kuliah tersebut, dosen yang menerangkan pun hanya berdiri atau duduk-duduk di depan, menggeser slide powerpoint yang sudah ada di laptopnya, sambil menerangkan dengan nada yang monoton. Seratus menit berlalu, slide sudah mencapai yang paling akhir, dan powerpoint di-close. Beliau berdiri, dan berkata, “Ada yang mau bertanya? Sudah paham?”

Tentu saja aku belum paham. Tentu saja aku mau bertanya. Namun aku tidak melakukannya, dan tak ada satu pun teman-teman di kelasku yang melakukannya. Kelas diakhiri, dan kami dipersilakan keluar.

“Akhirnya selesai,” kata beberapa temanku, terdengar sangat lega.

Siangnya, ada sebuah kuliah lagi yang kami ikuti. Kali ini dosennya jauh lebih bersemangat, mata kuliahnya menarik, dan aku, sudah mendapatkan tenaga penuh setelah makan beberapa cemilan di kantin, mencatat dan mendengarkan dengan seksama semua yang diucapkan oleh si bapak dosen.

Pada akhir pelajaran (100 menit juga, sama seperti kuliah sebelumnya), dosen tersebut bertanya ke anak-anak kelas, “Ada pertanyaan?”

Diam sejenak. Salah satu temanku mengangkat tangannya pelan-pelan, dan si bapak dosen langsung menghampirinya.

“Ih, ngapain sih pakai tanya-tanya segala. Nyebelin…” gerutu seorang temanku yang duduk di sebelahku.

Kata-kata tersebut mengejutkan, namun juga tidak mengejutkan. Mengejutkan karena di sebuah instansi pendidikan, sebuah perguruan tinggi ternama dan digadang-gadang sebagai salah satu World Class University, universitas pertanian terbaik di Asia, ada mahasiswanya yang berkata seperti itu. Seolah menurutnya bertanya itu tidak penting banget, seolah baginya yang paling penting adalah menyudahi kuliah sesegera mungkin.

Namun, hal tersebut tidak mengejutkan karena aku sudah biasa mendengarnya.

***

Saat aku masih SMP, aku termasuk dari yang banyak bertanya di kelas. Aku penasaran. Aku ingin menggali lebih dalam. Dan kebanyakan juga karena aku belum mengerti yang disampaikan oleh guru-guru. Barulah saat aku masuk SMA, saat aku mulai sering duduk di belakang (ada pengaturan tempat duduk yang cukup unik saat aku di SMA, sistemnya kursi berpindah, kapan-kapan akan kuceritakan), aku mulai mengetahui dengan jelas apa yang teman-teman lain katakan kalau ada salah satu dari anak di kelas yang mengajukan pertanyaan.

“Apa sih, cari perhatian.”

“Ih, sok pinter.”

“Pinter banget sih yaa…”

“Ayo dong ah, cepetan… udah mau pulang nih…”

Kata-kata tersebut diucapkan dengan sepelan mungkin, namun cukup jelas, sehingga semuanya mendengarnya kecuali si guru dan si pengaju pertanyaan. Lama-kelamaan si yang mengajukan pertanyaan pun mendengar ucapan-ucapan seperti itu, dan makin lama dia juga tereduksi. Dia menjadi diam, menjadi sunyi. Tak ada lagi tangan yang teracung dengan bersemangat untuk mengajukan pertanyaan.

Ada lagi cerita lainnya. Seorang temanku bertanya sesuatu yang agak out of topic dari yang disampaikan si dosen, sampai-sampai si dosen pun menjawabnya dengan, “Oh itu tidak termasuk dalam pelajaran.” Atau “Oh itu nanti akan kalian pelajari di semester berikutnya”. Kemudian, teman-teman yang lain akan berkata, “Weits… pinter banget…” Atau “Ciee udah pinter abiss.”

Tahun demi tahun, ganti sekolah demi sekolah, naik tingkat dan makin dewasa, aku terus saja melihat hal tersebut. Aku menyadari bahwa budaya kita, budaya kita di kelas, secara sangat efektif dan efisien berhasil mereduksi dorongan untuk bertanya, kemauan untuk bertanya, hingga nyaris mencapai skala Nol. Orang-orang yang aktif bertanya diledek-ledekin, direndahkan, sementara orang-orang yang tidak bertanya – orang-orang yang sama dengan yang ingin kuliah selesai cepat-cepat, ingin segera keluar dan pulang – malah dijayakan karena memiliki kekuatan massa yang besar.

Hasilnya? Degradasi kemampuan berpikir. Menurunnya semangat untuk mempelajari hal-hal baru. Menurunnya semangat untuk aktif. Buat apa mendengarkan banyak-banyak apa yang dosen katakan? Buat apa tanya kalau bisa nyari sendiri? Buat apa tanya kalau bakal nyusahin teman-teman, bikin kesel teman-teman yang sudah kepengen banget kuliahnya segera selesai?

Orang-orang yang aktif bertanya dicap sebagai ‘Sok’. Dan aku tahu, siapa pun tak ingin dicap sebagai ‘sok’.

Masalah ini sebenarnya pernah diangkat beberapa kali oleh beberapa dosen yang masuk ke dalam kelasku. Ada dosen yang selalu bertanya, “Ada pertanyaan tidak”, dan selalu dijawab dengan keheningan. Akhirnya, beliau-beliau berkata, “Kalian ini beda banget sama mahasiswa di luar negeri. Kalau di luar negeri, orang-orang itu pada semangat buat nanya! Dosennya pun dipotong di tengah-tengah penjelasan, karena ditanya! Dan di situ terjadi interaksi yang luar biasa – bayangkan dua jam pelajaran yang isinya full diskusi seru antara dosen dengan mahasiswa, debat ilmiah dengan mengajukan fakta-fakta terbaru. Kenapa di sini tidak bisa?”

Aku diam. Teman-temanku diam. Sebagian besar dari kami hanya ingin kuliah ini selesai. Namun samar-samar aku teringat pengalamanku ketika melakukan presentasi ilmiah di sebuah konferensi internasional lima tahun lalu. Aku berada di Eropa. Aku berada sangat jauh dari negaraku. Di sana, setiap speaker yang maju, begitu mereka selesai presentasi dan bertanya, “Ada pertanyaan?” selalu dijawab dengan hampir semua hadirin+penonton+peserta lainnya mengacungkan tangan untuk bertanya. Dan semua itu harus diurus – meskipun ada batas waktunya, tentu saja – karena saat itu adalah ajang ilmiah! Itulah yang dilakukan para ilmuwan: mereka bertanya, mendapat jawaban, dan mereka bertanya lagi! Passion untuk belajar, itulah yang harusnya ditekankan dan dibudayakan dalam pendidikan kita dari usia dini!

Sementara di sini? Di usia dini, murid-murid diberitahu bahwa ‘murid yang baik’ adalah murid yang ‘rapi, anteng, tenang, diam saat guru menjelaskan, dan bertanya seperlunya’. Di saat mereka banyak bertanya atau ribut, mereka dicap jelek oleh teman-temannya, dan bahkan kadang oleh guru-gurunya sendiri. Mereka dianggap keganjilan: sesuatu yang out of place. 

***

Bagaimana denganku? Sayangnya, aku tak bisa mengakui bahwa aku, sekarang ini, adalah satu dari orang-orang yang masih berani untuk bertanya banyak di kelas. Aku lebih banyak diam. Aku lebih banyak anteng saja, mendengarkan, mencatat, dan kalau ada yang nggak mengerti, aku akan mencarinya sendiri.

Kesimpulannya? Aku adalah salah satu contoh dari murid yang baik.

Selamat datang di lingkungan akademis Negara Indonesia. Masih mau ngelanjutin kaya’ begini?

2 thoughts on “(Tentang) Bertanya dan Budaya Kita

  1. Assalamualaikum wr wb
    Iya.. Saya terkadang memang merasa “agak ribet” kalo nanya2..
    bahkan kadang pertanyaan itu terlontar karena iming-iming poin plus dari dosen bagi yang aktif di kelas..
    Namun terkadang pertanyaan itu jadi “gak” berkelas alias biasa aja..
    Bahkan merasa sebal ketika dalam satu perkuliahan di jam ke-11&12 udah jam 18.15 dosen mengakhiri kuliah trus tanya “ada pertanyaan” dan saat itu ada satu mahasiswa yg tanya2 terus.. argh.. bikin geregetan beberapa teman yg udh mau cabut(keluar) buat salat magrib..
    Well, mungkin pembaca(termasuk saya) perlu juga jelaskan ke teman2 terdekat ttg tulisan ini.. :)
    Bagus banget dan semoga bisa memotivasi u/ seperti ilmuwan yg bertanya dg tujuan menambah wawasan bukan sekadar poin plus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>