Off: Tentang Hubungan dan Komunikasi di Jaman Teknologi

IMG_3338

Cerita ini dimulai ketika aku masih remaja, dan berakhir di masa kini, di suatu jaman yang disebut sebagai jaman teknologi. Aku memiliki seorang sahabat di masa remajaku, sahabat yang berhubungan denganku cukup lama, melalui waktu, jarak serta rasa. Di akhir, kami berpisah, namun tidak dengan sia-sia. Segudang pengalaman dan pelajaran kupetik darinya, dari kami berdua. Di antaranya adalah salah satu unsur penting dalam komunikasi. Hingga detik ini, pelajaran darinya tersebut masih kupegang, terutama di jaman teknologi ini.

Tahun menunjukkan angka 2003. Baru 3 tahun memasuki Millennium baru. Pada saat itu, semua penerimaan siswa baru di SMP Negeri masih bergantung sepenuhnya pada NEM: dapatkan NEM yang bagus, kau akan diterima di SMP yang bagus. Sebaliknya, dapatkan NEM yang kurang bagus, dan kau takkan bisa masuk di SMP yang bagus.

Dengan kota berukuran sekecil kotaku, persaingan antar calon siswa sangatlah ketat. Sayangnya, aku tidak berhasil memenangkan persaingan tersebut. Aku tidak mendapatkan NEM bagus. NEM-ku berada di bawah angka 40.00, dengan rata-rata di bawah 8.00.

Sejenak, tampaknya harapanku untuk bisa bersekolah di SMP negeri yang bagus telah pupus, namun entah bagaimana aku berhasil masuk ke SMP terfavorit di kotaku. Para penyeleksi berkata bahwa ada seorang siswa yang entah kenapa menarik namanya dari daftar calon siswa, menyisakan satu kursi kosong. Aku masuk menggantikannya, menempati urutan terbawah dari calon-calon siswa yang diterima pada tahun tersebut. NEM-ku adalah yang paling rendah di sana, dan aku merasa malu.

Namun, naluri bersaingku masih menyala-nyala. Aku adalah seorang ABG biasa, baru saja meninggalkan SD-ku dengan seluruh kenangannya yang sebagian besar tak menyenangkan, dan aku baru saja menginjak tempat baru. Aku berniat membuktikan diri. Aku berniat berubah. Aku berniat meninggalkan jejak dan kenangan yang lebih berarti di sekolahku yang baru.

Aku berusaha, aku gagal, berusaha lagi, dan aku berhasil. Nilai-nilaiku, meski tidak cukup tinggi untuk membawaku menjadi juara paralel, berada di atas rata-rata. Selain di dalam, aku juga mulai beraktivitas di luar kelas. Aku bergabung dengan ekskul basket, renang, bahkan pramuka (walau yang pramuka hanya sebentar). Aku mendapatkan banyak kenalan, teman nongkrong, dan bahkan menemukan beberapa orang yang bisa kusebut sebagai ‘sahabat’ untuk pertama kalinya.

Suatu hari, aku bertemu dengannya.

Saat itu adalah hari yang biasa. Aku sedang mengobrol dengan teman-temanku di depan kelas, mengenai berbagai topik yang sudah tidak begitu kuingat. Sepertinya hal-hal remaja biasa. Kapan kita main dan tanding basket, mengenai film-film dan komik-komik baru, serta membicarakan beberapa kakak kelas yang sok jagoan. Begitulah. Beberapa anak-anak kelas kami yang lain sedang jajan di kantin, beberapa sedang di dalam kelas mengerjakan PR yang belum selesai, dan beberapa cewek berkumpul bersama di pojokan, tak diragukan lagi sedang bergosip.

Saat itulah, serombongan anak dari kelas sebelah keluar. Aku mengenal beberapa dari mereka, terutama yang laki-laki. Beberapa dari mereka adalah temanku dari ekskul basket, beberapa adalah anak tetangga yang setiap hari biasa berangkat ke sekolah bersamaku. Berada di antara mereka adalah seorang anak perempuan yang tidak kukenal. Tidak seperti teman-teman sekelasnya, dia tidak tampak ramai. Dia tidak heboh, dia tidak tertawa-tawa, namun dia tersenyum, sepertinya karena candaan salah satu teman perempuannya. Dia tampak lebih pendiam dibanding anak-anak di sekelilingnya, dan dia berlalu tanpa menyapaku.

Senyumnya membekas di benakku hingga berminggu-minggu berikutnya.

Tidak mudah untuk melupakan sebuah crush, apalagi kalau orang tersebut ada di kelas sebelah, bertemu denganmu setiap hari, berpapasan, dan kadang bertatapan denganmu. Kadang dia juga datang dan menontonku bermain basket. Aku selalu menahan diriku dari menyapanya, bukan karena aku takut, tapi karena aku takut.

Untungnya, aku masih seorang ABG. Cewek cantik lain datang dan pergi; pikiran dan hormonku terus bekerja. Aku berhasil melalui tahun pertamaku di SMP dengan cukup baik. Aku menjadi lebih mandiri, fisikku semakin kuat dan bagus, dan irama belajarku semakin teratur. Singkat kata, dengan semua cerita yang kubuat sendiri, aku sudah nyaris melupakannya menjelang akhir kelas 10.

Setidaknya, sampai tahun keduaku di SMP dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *