Off: Tentang Hubungan dan Komunikasi di Jaman Teknologi

Aku bertemu dengannya lagi dalam kondisi yang unik. Setelah berbulan-bulan tidak memikirkannya, aku mendapatinya telah menjadi pacar salah seorang teman baikku. Yah, mungkin bukan teman baik, tapi setidaknya masih teman nongkrongku lah. Lebih daripada itu, meski kelas kami tidak lagi bersebelahan, kelas kami terletak pada satu lorong yang sama. Kelasnya di ujung Barat lorong tersebut, sedangkan kelasku di ujung Timur.

Pada saat itulah, ada beberapa hal menarik yang terjadi.

Pertama, berbulan-bulan tanpa kontak dan hubungan langsung, bagi ABG di saat itu, sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan segala rasa yang pernah ada di antara kami. Saat kami berdua akhirnya bisa bertukar sapa, aku tidak lagi merasa canggung. Kami akrab dengan cepat, dan dalam hitungan hari, walaupun pacarnya sedang tidak ada bersamanya, kami tetap sering bertemu bersama.

Dalam hitungan hari, kami bertukar nomor handphone.

Perlu diketahui, aku baru memiliki handphone saat aku duduk di kelas 2 SMP. Saat itu, nyaris semua teman-teman kelasku sudah memegang handphone, dan setelah mendapatkan ranking 4 besar di kelas, ditambah dengan sedikit bermanja-manja kepada Ayahku, akhirnya aku dibelikan handphone.

Namun, meski aku sudah memilikinya, konsep handphone sendiri, pada saat itu, masih sangat absurd bagiku. Aku memilikinya selama berbulan-bulan, namun pulsanya tetap utuh. Aku tidak menggunakannya – tak ada yang berkirim pesan singkat denganku, tidak ada yang menelponku – kecuali untuk sesekali memainkan permainan Snake yang waktu itu sangat termasyhur.

Mudahnya, aku masih sangat asing dengan teknologi tersebut.

Hingga akhirnya, di suatu siang yang biasa, beberapa jam setelah aku bertukar nomor dengan sahabat baruku, handphone-ku berdering untuk pertama kalinya.

Suara SMS khas Nokia berbunyi. Aku, yang saat itu sedang tidur-tiduran sembari membaca Harry Potter di kasur kamar, mendongak kaget. Aku menatap handphone-ku, sedikit ragu dan curiga dan takut dan bingung menjadi satu. Perasaanku nano-nano, aku bangkit dari kasur dan meraih handphone-ku. Kubula kunci layarnya, dan melihat tulisan besar-besar di layarnya yang kecil tersebut, berbunyi, “1 Pesan Baru”.

Aku meng-klik “Buka”.

Sebuah SMS ditampilkan di hadapanku. Berisi tiga kalimat dengan seluruh kata-katanya diringkas-ringkas, SMS tersebut kurang lebih berbunyi, “Hai. Lg ngap?

Begitu-begitu, meski masih sangat gaptek dan kurang gaul, aku bisa mengerti maksud dari kata-kata tersebut. “Hai, lagi ngapain?”, itu pasti bunyinya yang sebenarnya. Oleh karena itu, aku pun mengetik jawabannya dengan cepat, meski beberapa kali keliru memasukkan huruf karena masih canggung dalam menggunakan keypad. Aku membalas, kurang lebih, “Lagi santai-santai. Ini siapa ya?”

Begonya aku, aku tidak mengecek nama pengirimnya sebelum membalas. Begitu SMS terkirim, barulah aku melihat nama sahabat baruku tersebut – dan aku menepuk dahiku keras-keras untuk pertama kalinya karena kebodohanku.

SMS balasan darinya terdengar geli, dan aku lega. Setidaknya dia tidak marah karena kebodohanku.

Setelah itu, kami saling berkirim SMS, bolak-balik, balas-membalas satu sama lain. Obrolan kami sederhana, dari “Hai lagi ngapain” hingga “Aku sebel sama si A,” dst.

Dan aku menikmati masa-masa di antara kami itu. Di pagi hari hingga jam istirahat, aku akan berada di dalam kelas, mendengarkan pelajaran sembari memikirkan kapan bisa bertemu dengan sahabatku itu. Di jam istirahat, kami apel berdua, mengobrol seru akan banyak hal, dari mengenai band-band favorit kami – yang ternyata banyak favorit kami yang sama – hingga makanan favorit, acara TV favorit, dan bahkan curhat mengenai pacarnya.

Di sore hingga malam hari, aku berkirim pesan singkat dengannya, melanjutkan percakapan kami yang terputus di akhir jam sekolah. Pulsaku mulai terhisap habis. Sesekali aku dimarahi karena keseringan SMS-an. Namun nilai-nilaiku terus meningkat, prestasiku terus bertambah, sehingga omelan dari orangtuaku pun perlahan-lahan menghilang. Aku dan sahabatku saling menyemangati satu sama lain dalam berbagai hal. Dari yang sederhana, seperti galau-galauan dan sebel-sebelan; dari berantem berdua karena hal-hal sepele; hingga curhat-curhatan saat dia putus dan baikan lagi dengan pacarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *