Off: Tentang Hubungan dan Komunikasi di Jaman Teknologi

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Aku meninggalkan kotaku, melanjutkan studi di Magelang, sebuah kota yang berjarak lima jam dari kampung halamanku.

Hanya lima jam, namun cukup untuk membuatku tidak bisa bertemu dengannya lagi setiap hari. Hanya sebuah sekolah baru, namun dengan segenap peraturannya yang sangat ketat, cukup untuk membuatku tidak bisa menghubunginya. Tidak ada handphone, tidak ada moda komunikasi, dan jadwal yang begitu padat membuatku terputus hubungan dengannya.

Perlu kuberitahu bahwa aku memiliki ingatan yang payah. Aku sudah menyadarinya sejak kelas 5 SD – aku cukup ahli dalam mata pelajaran hitung-hitungan seperti Matematika dan Fisika, namun begitu bertemu dengan pelajaran-pelajaran Sosial, atau apapun yang membutuhkan hapalan, aku langsung loyo. Ingatanku hanya berjangka pendek. Hal ini menyebabkanku mengalami banyak masalah saat ujian-ujian dan pelajaran sosial, di mana segala sesuatu yang sudah kuhapalin habis-habisan di malam hari terasa menguap begitu saja di pagi harinya saat aku menatap soal-soal.

Ini penting, karena akhirnya begitu masa ospek selama tiga bulan berakhir, kami diperbolehkan pulang kembali ke rumah selama beberapa hari. Saat itu, entah karena dorongan apa, aku mengayuh sepedaku ke rumahnya, mengunjunginya, dan akhirnya bertemu kembali dengannya.

Tapi sebelum itu, bayangkan hal ini: aku memiliki sahabat, teman baik, yang diam-diam kutaksir, selama dua tahun. Kemudian aku meninggalkannya, tidak berkontak dengannya, tidak bertemu dengannya, bahkan nyaris tidak memikirkannya sama sekali selama tiga bulan. Aku tidak memiliki fotonya di dompetku, dan satu-satunya foto dirinya yang kusimpan ada di handphone-ku, yang kutinggal jauh di rumah. Yang ada di ingatanku yang payah hanyalah kenangan-kenangan samar akan dirinya, akan wajahnya, akan pertemuan-pertemuan kami yang memudar bagai debu terbawa angin.

Aku menatap wajahnya, dan hal pertama yang kupikirkan adalah, “Oh ya, benar, wajahnya seperti ini.” Tapi kemudian yang kupikirkan adalah, “Dia jauh lebih cantik dari yang kuingat.”

Aku berhubungan dengannya setiap akhir pekan setelah itu. Datang ke Wartel, menghabiskan uang saku mingguan untuk menelpon dirinya (Jangan khawatir. Aku biasanya menghubungi orangtuaku di rumah guru, di mana di sana gratis, tapi tentu saja aku takkan diizinkan menghubungi ‘cewek’ di kampung halaman dari sana). Setiap kali mendengar suaranya, aku berpikir, “Oh ya, benar, suaranya seperti ini,” dan sekali lagi, “Suaranya lebih manis dari yang kuingat.”

Aku terus berhubungan dengannya seperti itu, dan, jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih menyadari bahwa aku masih mengharapkannya. Ya, padahal dia sudah memiliki pacar di SMA-nya, dan dari apa yang kudengar, mereka sangat bahagia. Kenapa aku masih saja berharap? Karena dia selalu menjawab teleponku, di setiap akhir pekan saat aku menelponnya. Saat itu, selain orangtuaku, hanya dia, hanya dengan mendengar suaranya-lah, aku bisa terus bangkit kembali setelah satu minggu yang sangat melelahkan dan menekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *