Off: Tentang Hubungan dan Komunikasi di Jaman Teknologi

Hubungan semi-LDR kami (kalau aku boleh menyebutnya begitu) berlanjut hingga akhir masa SMA-ku. Di akhir, aku menerima kenyataan bahwa apa yang kuharapkan memang, tetap, hanya harapan. Dia tidak mengembalikan rasa yang kumiliki.

Di akhir, kami berdua move on dengan kehidupan kami masing-masing.

Pengalamanku berhubungan dengan sahabatku itu memberikanku pelajaran penting tentang bagaimana mempertahankan hubungan, menjalaninya, terutama di jaman ini. Banyak faktor-faktor penting, tapi menurutku, salah satu yang sangat penting, yang pentingnya hanya dikalahkan oleh ‘perasaan pribadi’ dan ‘sikap masing-masing’, adalah ini: komunikasi lisan.

Yap. Di dunia di mana SMS, email, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan segala fasilitas komunikasi via internet lainnya merajalela, komunikasi verbal telah menjadi barang langka. Kita bekerja keras menulis dan terus menuliskan status dengan kata-kata terbaik, prosa-prosa indah, dan kalimat-kalimat dengan kalkulasi tinggi.

Lisan menjadi barang yang mahal. Tulisan menjadi diagungkan.

Aku tak tahu apakah hal tersebut baik atau buruk. Yang kutahu, ada sesuatu yang jauh berbeda saat aku bertemu dengan seseorang, berbicara dengannya, lalu berpisah dengannya dibandingkan berkirim pesan singkat dengannya atau mengobrol via aplikasi chatting dengannya. Ada sesuatu yang ritualistik, yang sangat naluriah, dalam berhubungan melalui pertemuan lisan. Mendengar suaranya langsung, mengucapkan jawaban kepadanya langsung, dan menerima kembali tanggapan darinya.

Ada sesuatu yang terasa jauh lebih bermakna saat kita berhubungan dengan seseorang dan berkomunikasi dengannya secara lisan, apalagi bertatap muka.

Masuk ke masa-masa kuliah. Aku merasa sangat bahagia saat akhirnya, suatu hari, aku bertemu dengan ‘seseorang’ di kampusku. Dia baik, manis, dan enak untuk diajak mengobrol. Kami memiliki banyak kesamaan. Dia tidak aktif di jejaring sosial apapun, jadi sia-sia mencoba men-stalk dia di internet.

Segala hal satu sama lain kami ketahui melalui komunikasi lisan. Kami akrab dengan cepat, dan dalam sekejap mata, kami sudah berpacaran.

Deja vu?

Entahlah. Yang jelas, aku sangat menikmati hubungan seperti ini. Lagipula, aku yakin aku tidak sendirian untuk hal ini. Baru beberapa malam lalu, saat aku berada di sekret organisasi kampus yang sedang kuikuti, seorang pengurus berkata bahwa dia ingin bertemu dengan si B, anggotanya, untuk membicarakan hal penting. Seorang pengurus lainnya mengatakan bahwa si B sulit untuk ditemui karena dia sangat sibuk, namun pengurus yang satunya bersikeras bahwa dia harus bertemu dengannya. Kenapa? Karena hal penting tersebut harus disampaikan langsung.

Lalu, baru beberapa minggu lalu, aku menyaksikan sekretaris kepanitiaan yang juga sedang kuikuti berhubungan dengan si ketua panitia, yang sedang menjalani praktek lapang di luar kota, untuk berkoordinasi mengenai kegiatan tersebut. Saat ditanya, “Kenapa telpon? SMS aja,” dia menjawab, “Telpon aja, biar lebih jelas, lebih enak…”

Masih banyak lagi contohnya.

Ada sesuatu yang terasa jauh lebih bermakna saat kita berhubungan dengan seseorang dan berkomunikasi dengannya secara verbal, apalagi bertatap muka.

Jadi menurutku, di jaman teknologi ini, meski cara berkomunikasi kita telah direvolusikan oleh jejaring sosial, kupikir hal-hal mendasar tetap takkan berubah. Kita akan tetap membutuhkan komunikasi lisan, komunikasi tatap muka, dan aku yakin, siapa pun yang bisa memenuhi kebutuhan kita yang satu ini, kebutuhan akan hubungan lisan, akan memenangkan jaman teknologi.

Dan sekali lagi, aku yakin aku tidak sendirian akan hal ini. Berbagai perusahaan besar telah meluncurkan fasilitas-fasilitas yang lebih mendorong terjadinya komunikasi ini. Google dengan Hangout miliknya, Facebook dengan layanan Free Call-nya, Microsoft dengan Skype-nya, dan masih banyak lagi.

Terakhir, ini semua, dari halaman pertama sampai terakhir, adalah tulisan pendapat pribadiku. Bisa salah bisa benar, hanya waktu yang akan menentukan yang manakah antara teks dengan lisan yang akan bertahan, sebagai bentuk komunikasi utama, di jaman dan abad teknologi ini.

Dan… sebuah saran yang sedikit off-topic: buat teman-teman yang LDR, sering-seringlah menelpon pacar Anda! :mrgreen:

-tulisan ini juga dimuat di Icon’s Chamber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *