Catatan Penelitian

Sampul_Paper

Pasca-ujian akhir semester, saya akan berangkat ke Cilacap untuk menjalankan sebuah penelitian. Berkaitan erat dengan bidang studi saya di kampus, yaitu kehutanan dan ekonomi industri, penelitian ini akan mengangkat topik mengenai analisis nilai tambah usaha kecil menengah di Kabupaten Cilacap.

Proposal baru saja ditandatangani oleh dosen pembimbing pada hari Jumat kemarin, dan surat izin untuk melaksanakan penelitian juga sudah saya ambil. Yang kurang, mungkin, tinggal membeli tiket untuk ke Cilacap dan menghubungi kembali kontak saya di sana. Sudah beberapa hari ini saya mencoba menghubungi seorang pengrajin di Cilacap, namun tidak diangkat dan dibalas. Kemungkinan besar karena hari libur dan masih awal tahun.

Harapan saya sederhana: penelitian ini dapat berjalan lancar dan bermanfaat.

Bismillah.

Keluarga Baru dan Agroedutourism IPB

Niatan pertama gabung dengan AET IPB, sejujurnya, tak lebih tak kurang adalah karena iseng-iseng. Coba-coba. Bahkan, lebih jujur lagi, aku mendaftar karena diajak oleh temanku, yang konon juga diajak oleh temannya, dan seterusnya :P Melewati tahapan seleksi administrasi (pendaftarnya banyak lho, ternyata), lalu diteruskan tahapan wawancara (aduh peserta yang lain kayanya pas diwawancara berwawasan banget, keren lah). Setelah itu, saya tidak terlalu memikirkan hasilnya, saya pikir kecil kemungkinan saya bisa lolos.

Tapi, ternyata oh ternyata, di suatu sore hari yang biasa, mendadak ponsel saya berdering. Sebuah SMS masuk dari panitia, memberitahukan saya bahwa saya diterima menjadi anggota AET.

Menjadi pemandu wisata!

Menjadi pemandu wisata!

Mengikuti pelatihan selama dua hari penuh, saya menerima job pertama sebagai pemandu wisata hanya seminggu setelahnya. Himakova IPB sedang mengadakan acara Hari Biodiversitas, dan bekerjasama dengan AET IPB, kami bertugas memandu anak-anak SD dari kota Bogor yang berkunjung ke IPB untuk ikut serta dalam event tersebut. Anak-anak SD-nya sebagian besar adalah anak-anak kelas 5, sehingga Alhamdulillah sudah lebih bisa untuk diarahkan. Namun, boy, saya baru menyadari satu hal dari job tersebut: menjadi pemandu wisata itu susah.

Tapi… menjadi pemandu untuk anak-anak juga menyenangkan. Menemani mereka menanam pohon, menggali biopori, dan jalan-jalan keliling kampus. Dan masih banyak lagi. Plus, saya bisa sekalian mempromosikan IPB kepada mereka. Di tengah-tengah acara, saat ditanya “Siapa yang mau kuliah di sini nantinya?” nyaris semua dari mereka angkat tangan.

Yay! :mrgreen:

Last 12 Months - 3701 Last 12 Months - 3703

Di akhir hari, saya mendapatkan pelajaran baru, pengalaman baru, dalam jumlah yang sangat tak terhingga. Ini adalah pekerjaan pertama saya yang secara langsung berhubungan dengan dunia kehutanan – atau minimal, dunia pertanian – yaitu menjadi pemandu wisata biodiversitas. Masih banyak yang harus saya pelajari agar bisa menjadi pemandu yang lebih baik, tapi saya merasa saya bisa melakukannya. :D

Terakhir, saya juga merasa mendapatkan keluarga baru dari AET IPB ini. Para pemandu angkatan saya semuanya orangnya baek-baek dan ramah-ramah, rajin menabung pula. Semoga kami bisa menjadi lebih erat, dan dapat bekerja dengan lebih baik lagi nantinya.

AET IPB angkatan 2013

AET IPB angkatan 2013

(Tentang) Bertanya dan Budaya Kita

Ask

Beberapa hari lalu aku mengikuti sebuah kuliah. Kuliah tersebut dilangsungkan di sebuah ruangan full-AC, pada pukul 8 pagi. Bisa ditebak, sebagian besar mahasiswa yang ada di kelas masih ngantuk-ngantukan dan belum bisa fokus penuh pada kuliah yang diberikan.

Kuliah berlangsung selama 100 menit, dan sepanjang kuliah tersebut, dosen yang menerangkan pun hanya berdiri atau duduk-duduk di depan, menggeser slide powerpoint yang sudah ada di laptopnya, sambil menerangkan dengan nada yang monoton. Seratus menit berlalu, slide sudah mencapai yang paling akhir, dan powerpoint di-close. Beliau berdiri, dan berkata, “Ada yang mau bertanya? Sudah paham?”

Continue reading

Luar Negeri

Malam ini, saat acara halal bi halal jurusan di kampus, saya bertemu dengan seorang kakak kelas saya.

Saat saya masih semester tiga, beliau adalah asisten dosen yang mengisi responsi mata kuliah Metode Statistika. Sebuah mata kuliah yang sesungguhnya tidak rumit-rumit amat, namun karena saya kurang berlatih dan pikiran saya rada teralihkan pada semester tersebut, saya tidak pernah benar-benar berhasil menguasai mata kuliah tersebut. Baru belakangan ini, saat saya membuka-buka materi tersebut kembali, saya bisa memahami beberapa bagiannya.

Anyway, saya tidak akan bercerita tentang mata kuliah tersebut. Karena setelah beberapa patah kata ditukar antara kami, beliau memberitahu saya bahwa beliau akan berangkat ke Perancis pada tanggal 23 September besok untuk menyelesaikan studi S-2.

Kakak kelas saya yang satu ini memang pintar. Baik, sabar, cantik, pintar pula. Cocok lah jadi idola dan panutan adek-adek kelasnya, termasuk saya. Namun entah kenapa, begitu saya mendengar kabar tersebut, sesuatu menggeliat dalam diri saya. Sesuatu perasaan yang familiar, namun di satu sisi juga terasa asing. Perasaan apakah ini? Kenapa aku merasakan ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berkecamuk dalam pikiran saya.

Saya mencoba melakukan napak tilas. Baru beberapa bulan lalu, saya mengikuti Temu Alumni Surya Institute yang terdiri dari para peserta ICYS (International Conference of Young Scientists) dari tahun 2005-2011, peserta Global Enterprise Challenge tahun-tahun lalu, dan tentu saja, yang paling heboh, peserta TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) dari masa ke masa.

Yap, percaya atau tidak, dulu saya memiliki otak dengan kapabilitas yang cukup untuk membawa saya ke ajang internasional, kemudian kembali lagi. Tanpa tangan kosong pula, dalam topik yang pertama kali diikuti oleh Indonesia (Computer Science). Mungkin terdengar agak aneh, namun itulah faktanya yang saya sadari sementara saya memandang si kakak kelas saya itu berjalan menjauh: saya menyadari bahwa saya telah tertinggal jauh.

IMG_7796

Benar-benar tertinggal jauh. Teman-teman saya yang berfoto bersama saya dalam Temu Alumni tersebut, nyaris semuanya, sudah selesai kuliah di luar negeri atau sedang kuliah di luar negeri, dalam bidang-bidang yang sangat saya senangi: Fisika, Matematika, dan berbagai cabang sains murni lainnya. Saya ingin menjadi seperti mereka, bergabung bersama mereka, menjadi duta Indonesia dan membawa nama Bumi Pertiwi di kancah internasional.

Namun faktanya? Sekarang, mata kuliah Metode Statistika saja tidak bisa dikuasai.

Saya tahu bahwa saya seharusnya bersyukur dengan kondisi saya sekarang. Tapi saya tidak bisa membuang perasaan saya itu, rasa ingin saya itu, begitu saja. Salahkah jika saya bertekad suatu hari nanti bisa mengikuti jejak kakak kelas saya itu, dan mengikuti jejak teman-teman saya, bahkan melampaui mereka?

Simple Life

Saat remaja, saya terbiasa menjalani hidup yang sederhana.

Walaupun bersekolah di sekolah semi-militer, yang katanya banyak orang terkenal dan luar biasa, menurut saya, di akhir, bersekolah di sana terasa biasa, dan simpel. Bangun pagi, cuci baju, olahraga pagi bersama, makan bersama junior dan senior, sekolah, belajar di kelas, makan siang, nyetrika dan merapikan baju dan kamar, belajar malam, ngobrol sama beberapa teman dekat, kemudian tidur kembali. Beberapa orang tentu saja tidak sesederhana itu, namun saya menyukai kesederhanaan, dan karenanya saya menghindar dari segala kerumitan.

Saya berorganisasi cuma selama setahun. Saya ikut lomba sampai tingkat internasional, ya, dengan segala kompetisinya dan dramanya, namun itu pun cuma dalam periode setengah tahun. Selama sisa hidup saya di sana, masa-masa remaja saya, saya menjalani hidup yang simpel. Dan menyenangkan, sangat menyenangkan.

Anehnya, hal yang sama tidak bisa saya temukan dalam kehidupan saya di kampus, yang notabene sudah 100% kehidupan sipil. Saya semakin sulit mengatur tidur saya. Saya semakin sulit mengatur pola makan saya. Saya semakin sulit mengatur jadwal dan agenda, termasuk waktu belajar saya. Terlalu banyak gangguan dan hal-hal tak terduga yang terjadi dalam tiga tahun terakhir ini, hingga perlahan-lahan hidup sederhana saya lenyap jauh di belakang, terlupakan dalam waktu.

Time management, begitu kata dosen-dosen dan orangtua saya. Namun bagaimana mau mengatur waktu dengan baik, kalau rapat-rapat bisa molor sampai sejam-dua jam? Bagaimana bisa mengatur pola makan, kalau tugas kuliah menyita semua waktu yang tersedia? Bagaimana bisa belajar dengan sungguh-sungguh, dengan semua gangguan dan godaan yang ada?

Belakangan ini fisik saya terkuras, dan semakin membuktikan bahwa saya tidak lagi sekuat dulu. Saya mudah jatuh sakit. Saya dirawat, keluar-masuk rumah sakit beberapa kali. Berangkat ke kampus Shubuh sebelum ibu dan adik bangun, balik lewat tengah malam saat mereka telah tertidur. Dimana keseimbangan antara kehidupan kampus dan kehidupan rumah saya, yang dulu sangat saya jaga dengan baik? Jarak saya dengan adik saya semakin jauh, dan belakangan ini saya menyadari bahwa saya tidak berada di sisinya selama periode remajanya dua tahun terakhir. Kakak macam apa saya?

Kadang rindu masa-masa dimana saya bisa hidup dengan sederhana. Dan seringkali saya ingin mengembalikan hidup saya menjadi sesederhana dulu. Namun jika saya melakukannya, saya tahu bahwa saya harus melepas banyak hal: organisasi dan pergaulan kampus, terutama. Padahal saya sudah bekerja cukup keras selama dua setengah tahun terakhir untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah saya buat di masa lalu. Apakah saya siap melepas itu semua?

Lagi-lagi, saya belum bisa membuat keputusan. Mungkin saya belum dewasa? Apalah. Kalau kata ibu saya, “Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan semuanya mengalir, lakukan dengan ikhlas.” Ya, ikhlas. Satu hal sederhana yang konon bisa merubah banyak hal. Bisakah saya melakukannya?

Mengutip kata-kata SBY (semoga beliau makin bahagia di ulang tahunnya hari ini): “HARUS BISA!”. Yap, saya harus bisa ikhlas! Harus bisa mengambil keputusan!

Musik Indie: Mulai Mencari Nih!

Sabtu kemarin, yang saya nanti-nanti akhirnya tiba. Setelah menunggu harap-harap cemas selama berhari-hari, bolak-balik nanyain ke Contact Person merchandise store-nya berkali-kali, hingga nyaris mencak-mencak dan merasa tertipu, akhirnya kaset album Nowhere to Go dari Endah N Rhesa nyampai di rumah saya.

Kalau mau jujur dikata nih ya, saya tuh baru tahu adanya Endah N Rhesa dari event IPB Green Living Movement sendiri. Padahal saya panitianya, tapi saya ga tahu akan artisnya ini. Parah banget ya saya? :( Yang saya tahu mengenai Endah N Rhesa itu hanyalah bahwa mereka adalah band Jazz baru yang lagi naik daun, dan sepertinya cukup bagus.

Tapi… Gimana ya? Jazz itu dari dulu sebenarnya bukan tipe musik yang bisa dengan mudah saya gemari. Sudah banyak lagu dan artis Jazz yang saya tahu, dan yang sudah melekat di hati baru beberapa. Sebut saja yang lokal macam Ginda and the White Flowers, Andien (pas jaman SMP :P), dan kalau untuk yang iconic internasionalnya ya macamnya Jason Mraz lah. Lainnya saya kurang begitu suka… Soalnya Jazz murni seringkali (bagi saya) terdengar kurang enak dan agak memusingkan.

Namun toh sebagai panitia saya juga ikutan nonton. Saya pikir apa ruginga sih ga? Dan taernyata oh ternyata…. penampilan Endah N Rhesa benar-benar maknyus!

Saya suka banget suaranya si Rhesa, ngingetin saya sama suaranya M2M dari jaman saya SD/SMP. Terus permainan gitar dan bass mereka berdua itu kompak banget, saling melengkapi satu sama lain. Belum lagi beberapa aksi panggung mereka berdua (yang sangat romantis, mereka suami istri sih soalnya :mrgreen: ) yang memukau. Dan, di atas itu semua, adalah lagu-lagu yang mereka bawakan itu keren-keren! Benar-benar makcep di hati! :mrgreen: Walhasil sebagaimana saya biasanya, begitu sampai rumah saya cari lagu-lagu mereka di internet. MySpace muncul pertama, dan saya dengarkan lah lgu-lagu mereka langsung. Huah, lengkapp!

Endah N Rhesa live at IPB. Sumber gambar: canisaymagz.com

Continue reading