Menggenggam Dunia Di Waktu Yang Tepat

IMG_2802

Korea Utara mengancam akan menyerang Amerika Serikat dengan rudal nuklir, aktivis Pro-Senjata di AS menentang adanya undang-undang senjata berat, Iran berhasil meluncurkan monyet ke luar angkasa. Berbagai hal luar biasa tersebut terjadi di belahan dunia lain, ratusan – bahkan ribuan – kilometer dari tempat kita berada sekarang.

Sepuluh tahun lalu, bahkan dengan sudah adanya internet, sangat sulit membayangkan bahwa suatu hari kita akan bisa mengetahui berbagai hal luar biasa yang terjadi ribuan kilometer dari kita dalam sekejap. Sulit untuk membayangkan di mana jarak tidak lagi menjadi hambatan untuk memperoleh informasi. Tapi, sekarang ini, seluruh berita di dunia dapat kita baca di genggaman tangan kita.

Teknologi, dengan berbagai macam gadgetnya, telah terjangkau oleh berbagai lapisan kalangan masyarakat. Smartphone, laptop, bahkan tablet bukan lagi menjadi monopoli kaum berduit karena harganya semakin murah. Komputer tidak lagi menjadi monopoli kaum akademis karena UI-nya semakin sederhana dan mudah digunakan oleh siapa pun.

Continue reading

(Tentang) Bertanya dan Budaya Kita

Ask

Beberapa hari lalu aku mengikuti sebuah kuliah. Kuliah tersebut dilangsungkan di sebuah ruangan full-AC, pada pukul 8 pagi. Bisa ditebak, sebagian besar mahasiswa yang ada di kelas masih ngantuk-ngantukan dan belum bisa fokus penuh pada kuliah yang diberikan.

Kuliah berlangsung selama 100 menit, dan sepanjang kuliah tersebut, dosen yang menerangkan pun hanya berdiri atau duduk-duduk di depan, menggeser slide powerpoint yang sudah ada di laptopnya, sambil menerangkan dengan nada yang monoton. Seratus menit berlalu, slide sudah mencapai yang paling akhir, dan powerpoint di-close. Beliau berdiri, dan berkata, “Ada yang mau bertanya? Sudah paham?”

Continue reading

Tentang Menanam

Saat kuliah Pemanenan Hutan tadi pagi, dosen saya bercerita mengenai teori asal-muasal pohon Jati. Konon, saat Belanda datang ke Indonesia, tepatnya pulau Jawa, sudah banyak pohon jati yang tumbuh di tanahnya. Sangat banyak dan sangat subur, hingga teori paling terkenal mengenai asal muasal jati jawa adalah bahwa sebenarnya mereka adalah tanaman endemik dari pulau Jawa, dan menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya dengan perantara Belanda.

Tapi itu bukanlah teori satu-satunya. Ada beberapa teori lain, di antaranya adalah teori bahwa jati berasal dari Birma, dari pulau di Sumatera Tenggara, atau – yang cukup termahsyur – teori yang mengatakan spesies jati tersebut berasal dari Hindia, dibawa oleh para pedagang yang menjelajah ke Indonesia.

Konon, orang-orang Hindia memiliki kepercayaan yang unik: setiap kali mereka menjelajah samudera, mereka membawa serta bersama mereka bibit pohon jati. Dimana mereka mendarat dan menetap, mereka akan menanam bibit tersebut, merawatnya hingga tumbuh besar, hingga akhir hayat mereka. Mereka percaya bahwa saat mereka meninggal, roh mereka akan menjadi satu dengan pohon dan turut menjulang ke langit bersama alam.

Karena itulah mereka merawat pohon mereka sebaik mungkin. Menanamnya di pegunungan yang diterangi cahaya matahari, tiada terik namun sejuk, dengan burung-burung bernyanyi di dahan-dahannya. Danau mengalirkan sungai di kejauhan, riaknya terdengar hingga cakrawala, pemandangan yang membentang melampaui lembah, gunung, dan awan-awan di baliknya. Saya bisa membayangkan, bahwa bagi mereka, sungguh indah kehidupan setelah kematian seperti itu.

Apakah itu yang dibutuhkan oleh masyarakat zaman sekarang? Kepercayaan kuno bahwa mereka akan menyatu dengan pohon, agar mereka mau menanam pohon dan merawatnya dengan baik, menghijaukan bumi alih-alih merusaknya?

Berjalannya UTS: Sudah Dua Hari Lho :)

Sudah dua hari saya menjalani UTS: Selasa dan Rabu, dengan masing-masing untuk mata kuliah Anatomi dan Kimia Kayu. Soal-soal sudah saya kerjakan, saya keluar ruangan dengan cukup lega, pokoknya overall ndak parah-parah amat. Namun terlepas dari sudah terlaksananya dua hari berturut-turut UTS Semester Genap saya di tingkat II ini, tetap saja ada perasaan aneh dari dalam diri saya terhadap UTS ini, sesuatu yang saya tadinya mengira akan hilang seiring berjalannya waktu.

Apakah itu? Ya, perasaan itu adalah perasaan tenang.

Saya adalah orang yang cukup rempong. Sering tampak ndak nyantai banget kalau mau ujian. Dan jangankan ujian, latihan soal atau kuis sehari-hari saja saya sering panik sampai-sampai lupa semua materi yang penting-penting, yang vital-vital. Namun sangat berbeda halnya dengan UTS kali ini. Saya merasa sangat santai, relaxed, nyaman, dan tenang. Sembari belajar saya masih menyempatkan diri membuka laptop, browsing internet, membaca-baca blog teman-teman, dan lain sebagainya. Pokoknya benar-benar “Bukan gue banget” dah!

Entah apa yang menyebabkan saya seperti ini. Di satu sisi, saya sempat khawatir ini adalah pertanda saya menjadi malas dan bahwa saya akan mendapatkan nilai jelek kalau saya masih merasa seperti ini. Namun di sisi lain, sebagaimana saya katakan di atas, sudah dua hari UTS terlewati dan sejauh ini saya masih merasa lancar-lancar saja – terlalu lancar malah, terutama untuk mata kuliah kemarin, Kimia Kayu. Memang jelas, saya ndak mungkin benar-benar menjawab semuanya dengan benar dan mendapat nilai 100, namun tiap kali saya keluar ruangan dan membaca-baca slide mata kuliah yang baru diujikan dalam rangka mencocokkan jawaban saya, saya selalu mendapati sebagian besar benar dan saya pun akan berpikir, “Alhamdulillah, dapat lah nilai B :)

Memang ini bukan hal yang baru. Saya mengalami ini menjelang akhir UAS semester ganjil kemarin, dan Alhamdulillah nilai-nilai saya sangat memuaskan seluruhnya, menutup nilai UTS Semester ganjil saya yang hancur berantakan. Mungkin saya bisa merasa seperti ini karena saya sudah mendapatkan irama belajar yang tepat, atau mungkin karena saya jadi malas, kurang ambisi, atau mungkin… dan ini yang paling saya harapkan, sebenarnya: Karena saya sudah bisa lebih banyak bersyukur, menikmati segalanya yang ada sebaik-baiknya. Belajar tetap jalan, main tetap jalan, temenan tetap jalan, Insya Allah hasil terbaik, ‘kan? :D

Tentu saja UTS masih panjang, masih ada seminggu lagi dan enam mata kuliah yang harus dikerjakan. Harapannya saya bisa menjaga perasaan tenang dan nyaman saya ini, sehingga belajar pun bisa tetap terasa menyenangkan. Sekali lagi, mohon doanya ya teman-teman!! :mrgreen: Terima kasih!

Hugo, Film Keluarga, dan Visual dalam Sinema

Setelah beberapa minggu tidak sempat sama sekali untuk refreshing, beberapa hari yang lalu dengan sengaja saya mengambil waktu refreshing besar-besaran dengan pergi ke kota, jalan-jalan, dan membujang. Lihat sana-sini, masuk ke mall, mengamati kawula muda sedang bercengkerama di tengah sosialita masyarakat Indonesia… Dan banyak lainnya.

Niat awalnya sebenarnya hanya ingin jalan-jalan, namun kemudian, saat saya sedang berada di dalam Botany Square, saya melihat poster film Hugo sedang dipajang di depan bioskop XXI. Dengan bangganya poster tersebut mencantumkan: 11 Academy Award Nominations – alias sebelas nominasi Oscar. Saya pun teringat bahwa film tersebut memang merupakan salah satu film yang dulu pernah saya sangat nanti-nantikan, dan saya juga teringat bahwa film Hugo berhasil menyabet lima (atau enam? Saya lupa :P) piala Oscar pada tahun ini. Rasa penasaran kian bertambah, saya akhirnya masuk ke dalam bioskop, membeli karcis masuk, popcorn, dan duduk manis di dalam ruangan, untuk menonton film Hugo ini.

Secara garis besar, film Hugo adalah sebuah kisah yang sederhana. Seorang anak laki-laki yang hidup di sebuah stasiun kereta, bekerja mengatur dan menjaga agar setiap jam yang berada di stasiun tersebut tetap berdetik tiap harinya. Kemudian dia bertemu dengan seseorang pria dewasa misterius, lalu bertemu dengan seorang perempuan sebayanya, dan misteri berlanjut, dan dengan latar belakang masa lalunya yang cukup kelam, si anak berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan dan menyelesaikan misteri yang ada.

Simpel, sederhana. Namun Hugo, selayaknya sebuah film yang memborong Oscar beruntun, bukanlah film yang sesederhana itu.

Continue reading

Tentang Cinta, dan Kenapa Kita Seringkali Salah

Ini adalah sebuah cerita lama, yang baru-baru ini saya dengar lagi dalam sebuah show-nya Mario Teguh, sang motivator kondang itu, di televisi. Dalam show tersebut, Mario Teguh mengangkat sebuah topik yang cukup unik: topik mengenai cinta.

Saya, sebagai anak muda yang sedang mencari cinta (#halah) tentu saja langsung mengurangi kecepatan makan malam saya dan mendongak untuk ikut mendengarkan apa yang disampaikan Mario Teguh. Semua yang beliau sampaikan bagus, dan sangat inspiratif, namun secara umum tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Nyaris semua bahasan di dalamnya sudah biasa saya dengar dan baca dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saya terapkan di dalamnya.

Ya, hingga akhirnya beliau sampai pada satu topik pertanyaan ini, yang disampaikan oleh salah seorang penonton:

“Jika kita sudah berkeluarga nanti, bagaimana kita mengatur cinta kita? Ada banyak hal yang harus dan selayaknya kita cintai: istri/suami kita, anak kita, ipar kita, mertua kita, orangtua kita sendiri, dan bahkan agama kita. Bagaimana kita bisa membagi hati kita?”

Beliau tertawa kecil, dan menjawab dengan lancar, “Tentu saja jawabannya adalah: Anda harus mencintai agama Anda 100%, sepenuh-penuhnya hati.”

Saya mengangguk. Hal yang biasa saya dengar juga, teman-teman saya juga dari dulu sering berkata begitu -

“Kemudian, Anda mencintai istri/suami Anda 100%. Juga sepenuh hati.”

Saya mendongak. Apa maksudnya?

“Ipar Anda 100%, anak Anda 100%, mertua Anda 100%, dan orangtua Anda 100%. Semuanya 100%, sepenuh-penuhnya hati kita memberikan.”

Saya mengerjap beberapa kali. Lho, kok bisa begitu? Mana bisa kaya’ begitu, khan? Masa hati kita mau dijumlah berapa ratus persen-

“Disitulah sebagian besar dari kita salah. Kita menganggap kita tidak bisa mencintai semuanya 100% sama. Padahal bisa. Berikan 100% pada semua yang memang kita sayangi. Mungkin kata Anda, ‘Lha, jumlah semuanya khan bakal lebih dari 600%, 10000%, dan semacamnya itu pak?’

“Itulah poinnya. Kita bisa melakukannya karena Cinta itu tidak ada logika. Cinta itu tidak bisa dihitung dengan matematika. Kalau berusaha mengharafiahkan cinta dengan logika, itu berarti membelenggu cinta hanya dalam batas daya pikir otak manusia. Padahal kenyataannya tidak! Cinta adalah sesuatu yang sangat haqiqi, sesuatu yang sangat tinggi melampaui segala logika dan daya pikir manusia!”

Continue reading